Stoikisme di Balik Jeruji, Pelajaran dari Warga Lapas
Baru-baru ini, saya mendapat kesempatan untuk mengisi materi sekaligus memberi sedikit kegembiraan bagi warga Lapas Kelas 1 Makassar. Seratusan orang yang saya temui di sana berasal dari berbagai usia, suku, agama, tingkat pendidikan, dan tentu saja, latar belakang kasus yang beragam. Beberapa di antara mereka sempat saya tanyai, "Apa yang membuatmu berada di sini?" Jawaban yang saya terima beragam; ada yang mengaku karena mencuri, ada yang dihukum atas pembunuhan, melakukan pelecehan seksual, hingga terjerat kasus narkoba.
Dari semua cerita tersebut, bisa dipastikan bahwa mereka terjerat kasus yang sangat sulit untuk dimaafkan. Namun, di sisi lain, mereka semua menjalani hukuman sebagai konsekuensi atas perbuatan yang telah dilakukannya. Meskipun di balik itu ada juga banyak cerita sedih, seperti keluarga yang seolah melupakan mereka. Tak sedikit dari mereka yang mengaku merasa seakan telah terbuang, tak ada kabar, apalagi kunjungan.
Dalam situasi seperti itu, mau tidak mau, mereka harus menerima kenyataan. Tak ada lagi pilihan selain menjalani putusan yang telah dijatuhkan. Penyesalan memang datang belakangan, dan meski hati mereka mungkin penuh sesal, mereka tetap harus bertahan. Mereka harus beradaptasi di lingkungan yang serba terbatas, namun dengan tetap memupuk asa untuk kehidupan yang meskipun tak menentu, tetap harus dijalani.
Ketidakpastian yang mereka hadapi, bagaimanapun juga, adalah penderitaan yang tak mudah. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang menarik. Saya melihat mereka, para penghuni Lapas, seolah sudah menemukan cara untuk berdamai dengan hidup. Mungkin mereka tak bisa memilih jalan hidup yang lebih baik, tapi mereka sudah memilih untuk menerima kenyataan. Mungkin itulah yang dimaksud dengan stoikisme suatu filosofi hidup yang mengajarkan kita untuk menerima takdir dengan kepala tegak, meski dunia terasa tak adil.
Ada satu hal yang saya perhatikan pada mereka: tak ada lagi ekspresi kegelisahan. Wajah mereka seperti sudah lelah dengan beban yang harus dipikul. Mereka menerima apa adanya, keadaan yang serba terbatas, kepasrahan terhadap nasib yang sudah digariskan, dan kebersamaan yang tumbuh di antara sesama penghuni Lapas yang sama-sama menanggung beban. Tidak ada keluhan yang meluncur dari bibir mereka. Semuanya tampak lebih tenang, meskipun tak bisa dipungkiri bahwa mereka hidup dalam ketidakpastian.
Menurut petugas Lapas, kehadiran kami orang luar yang datang memberi sedikit kegembiraan adalah sesuatu yang sangat mereka hargai. Terlebih jika kami membawa makanan kecil atau kue-kuean. Di dalam Lapas, makanan seperti itu bukanlah hal yang biasa, dan bisa menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Ini memang bisa dibilang sebagai kenikmatan sederhana yang mereka nikmati dalam keterbatasan. Sebuah kebahagiaan yang tak banyak orang luar bisa pahami.
Mungkin ini adalah contoh nyata dari filosofi yang diungkapkan dalam Filosofi Teras, "Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apapun yang dia mau, tetapi dia memiliki kuasa untuk tidak mengingini apa yang dia belum miliki, dan dengan gembira memaksimalkan apa yang dia terima."
Filosofi ini, yang dalam banyak hal sepertinya sudah menjadi cara hidup mereka, sangat relevan dengan keadaan para penghuni Lapas. Mereka memang tak bisa memilih untuk bebas, tak bisa memilih jalan hidup yang berbeda, dan tak bisa memilih untuk merasakan kebahagiaan seperti yang kita rasakan di luar sana. Tapi mereka bisa memilih untuk menerima apa yang ada, menerima keterbatasan, dan menikmati sedikit kebahagiaan yang datang seperti kue-kuean yang kami bawa. Mereka memilih untuk tidak meratapi nasib dan tetap mencoba menjalani hidup mereka dengan cara yang terbaik, meskipun di balik jeruji besi.
Dalam keadaan semacam ini, stoikisme bukanlah sekadar filosofi untuk menghadapi kehidupan yang penuh ketidakpastian, tetapi juga sebuah bentuk kebijaksanaan yang mengajarkan kita untuk tetap tenang, menerima kenyataan, dan tetap hidup dengan sebaik-baiknya. Tanpa perlu banyak mengeluh, tanpa perlu merasa kehilangan harapan. Itulah mungkin yang bisa kita pelajari dari mereka. Keadaan bisa saja menghimpit kita, tetapi sejauh kita bisa menerima dengan lapang dada, kita tetap bisa menemukan kedamaian dalam hidup yang penuh ketidakpastian.
Jadi, apa yang bisa kita ambil dari pengalaman ini? Mungkin pelajaran terbesar yang bisa dipetik adalah tentang penerimaan. Penerimaan terhadap kenyataan hidup yang kadang jauh dari harapan, tetapi tetap bisa membawa kebahagiaan dalam bentuk yang tak terduga. Seperti halnya para penghuni Lapas, meskipun hidup mereka jauh dari sempurna, mereka tetap mampu menemukan ketenangan dalam menghadapi takdir yang sudah ditentukan. Dan itulah yang mungkin juga kita butuhkan, terutama di masa-masa penuh ketidakpastian ini.

Komentar
Posting Komentar