“Pokoknya Ada”: Ketika Komunikasi Publik Kehilangan Argumentasi
Oleh: Kasri Riswadi
Dalam
struktur pemerintahan, Sekretaris Kabinet (Seskab) sejatinya adalah jantung
birokrasi, seorang teknokrat di balik layar yang memastikan mesin pemerintahan
berjalan sinkron. Namun, di tangan seorang Teddy Indrajaya dalam pemerintahan
Prabowo-Gibran, peran ini mengalami mutasi komunikasi yang menarik sekaligus
mencemaskan. Dari balik pintu rapat, sang Seskab kini melangkah ke lampu sorot,
bukan untuk membawa transparansi, melainkan untuk membangun pagar betis narasi.
"Pokoknya
Ada": Matinya Logika Publik
Puncak
dari kegagapan komunikasi ini terekam jelas dalam frasa "Pokoknya
ada" yang sempat viral saat ia menanggapi pertanyaan wartawan perihal
anggaran program kerakyatan. Dalam kacamata Pragmatik, kalimat pendek ini merupakan bentuk tindakan tutur
direktif yang dipaksakan; sebuah upaya untuk memutus rantai informasi dan
menghentikan dialektika publik secara prematur.
Lebih
jauh, jika dibedah menggunakan Analisis
Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough, penggunaan kata "pokoknya
ada" berfungsi sebagai instrumen hegemonic, sebuah teknik linguistik untuk
menormalisasi ketidaktransparanan dengan cara menutup celah bagi logika atau
pertanyaan lanjutan. Jawaban tersebut mengekspos ketidakmampuan rasionalisasi
kebijakan; saat seorang pejabat tinggi tidak mampu menjelaskan aspek
teknokratis kepada publik, ia sedang mempertontonkan kapasitas yang belum
matang. Publik tidak lagi dipandang sebagai subjek yang berhak tahu, melainkan
objek yang cukup diberikan "kepastian" tanpa penjelasan.
Dari
Ajudan ke Komando Narasi
Transparansi
memerlukan kematangan intelektual untuk berdebat dengan data. Bagi pejabat yang
tumbuh dalam budaya komando, kritik sering kali disalahartikan sebagai ancaman
atau pembangkangan. Inilah yang terlihat dari transformasi gaya Teddy: dari
seorang ajudan yang melindungi fisik Presiden, menjadi Seskab yang mencoba
melindungi "kebenaran tunggal" pemerintah.
Belakangan,
intensitas tampilnya Teddy di ruang publik meningkat. Namun, kemunculannya
bukan untuk membuka ruang dialog. Sebaliknya, upaya menyoroti apa yang ia sebut
sebagai "inflasi pengamat" adalah serangan premptif terhadap nalar
kritis. Dengan mendiskreditkan pengamat, pemerintah sedang melakukan delegitimasi kepakaran. Ini adalah
gejala anti-intelektualisme yang berbahaya: saat data dibalas dengan sentimen,
dan kritik dijawab dengan pelabelan.
Institusionalisasi
Pembungkaman
Tampilnya
Teddy secara lebih vokal di media harus dibaca sebagai upaya pembungkaman yang
dikemas dalam protokol kenegaraan. Strateginya jelas: kuasai panggung, serang
kredibilitas pengritik, dan tutup celah pertanyaan dengan pernyataan-pernyataan
dogmatis.
Ini
bukan lagi tentang efisiensi komunikasi militer yang terbawa ke ranah sipil,
melainkan tentang penggunaan jabatan publik untuk mempersempit ruang diskursus.
Ketika Seskab lebih sibuk mengomentari "suara luar" daripada
membereskan transparansi di dalam, maka substansi komunikasi pemerintah
sebenarnya tetap nihil, hanya kemasannya saja yang kini lebih ofensif.
Penampilannya hanyalah perubahan kemasan tanpa perubahan substansi; sebuah
upaya untuk memastikan bahwa tidak ada ruang bagi rasionalitas di luar narasi
resmi.
Demokrasi
yang sehat menuntut pejabat yang mampu merasionalisasi setiap kebijakan melalui
argumen yang kokoh. Gaya komunikasi "pokoknya" dan serangan terhadap
pengamat adalah cermin dari kerapuhan kapasitas pejabat instan yang belum
matang sekaligus tanda alergi terhadap kritik. Jika gaya ini terus dipelihara,
maka komunikasi publik kita akan berakhir pada satu titik buntu: sebuah tirai
gelap di mana penguasa merasa benar hanya karena mereka memegang pengeras suara
paling kencang, sementara akuntabilitas terkubur di balik kata "pokoknya
ada".
-----
Opini sebelumnya telah dipublikasi oleh matakita.co dengan tautan Pokoknya Ada

Komentar
Posting Komentar