Jumat, 05 Juli 2013

PERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM DUNIA PENDIDIKAN NASIONAL


Peradaban manusia bukanlah suatu barang jadi yang jatuh dari langit dan diwarisi secara turun-temurun, melainkan suatu hasil perjuangan manusia dari abad ke abad dengan menggunakan segala kemampuannya, baik yang dibawa lahir maupun yang diperoleh dari pengalaman sebagai hasil budi daya dan rekayasa dalam menghadapi tantangan dan hambatan serta keterbatasan yang dijumpai sepanjang perjalanan hidupnya. Dalam proses itulah, pendidikan senantiasa merupakan faktor yang menentukan baik dalam arti dan peranan maupun dalam kegunaannya. Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan kalau dikatakan pendidikan menentukan hasil perpaduan antara peradaban dan kehancuran. Kalau pendidikan tidak diperkuat, maka kehancuranlah yang akan mendapat kesempatan.
Pendidikan demikian pula dalam persoalan manusia, hanya manusia yang mempersoalkan pendidikan. Karena menurut kodratnya memang mausia harus di didik. Tanpa pendidikan, manusia tidak akan berkembang sebagaimana layaknya.
            Pendidikan sebagai salah satu fungsi dan tujuan Negara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, yang merupakan fungsi yang di emban dan ingin dicapai melalui suatu system pendidikan Nasional dan  memberikan kesempatan yang sama pada semua peserta didik dari semua elemen masyarakat untuk mendapatkan pelayanan dalam bidang pendidikan.
            Mencerdaskan kehidupan bangsa, yang menjadi salah satu fungsi dan tujuan Negara itu meliputi berbagai aspek, bukan hanya terbatas pada aspek kecerdasan otak dan akal, tetapi meliputi secara keseluruhan baik itu kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, maupun kecerdasan emosional.
            Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan Nasional yang berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa itu, pada intinya mengarah pada tujuan untuk menciptakan sumber daya manusia yang professional dalam memadukan antara kapasitas akademiknya dan moralitasnya sehingga mewujudkan manusia yang dapat berfikir secara bijaksana, berakhlak mulia serta cakap dan kreatif.
            Berangkat dari tujuan tersebut, Lalu apakah yang harus dibenahi dalam sistem pendidikan kita untuk mencapai  yang dicita-citakannya itu. Bila ditelusuri lebih dalam maka perhatian kita pun akan mengarah pada pendidikan Islam, karena system pendidikan Nasional tidak akan bisa lepas  dari pendidikan Islam secara khusus. Suatu studi pendidikan yang mencakup tentang pemahaman-pemahaman spiritual, pandangan dan pedoman hidup serta penuntun manusia untuk dapat membedakan antara yang benar dan salah.
            Adapun jika kita menilik pada realitas yang ada, bahwa pendidikan Islam dewasa ini hanya dipandang sebagai suatu pendidikan yang terfokus pada penanaman spiritual saja yang tempatnya hanya pada pesantren, surau, ataupun sekolah-sekolah yang berada pada naungan lembaga-lembaga Islam. Sungguh suatu pandangan yang sangat tidak tepat. Padahal, dalam tataran pendidikan Nasional harusnya tetap berkiblat ataupun mengacu pada pendidikan Islam, tetapi  ternyata faktanya tidak seperti itu, bahkan pendidikan Islam perlahan sudah mulai kita tinggalkan, salah satu contoh misalnya, di dalam proses kegiatan belajar-mengajar pada sekolah-sekolah umum. Dimana untuk mata pelajaran pendidikan agama itu hanya diberi jatah waktu selama dua jam dalam rentang waktu selama satu pekan proses belajar-mengajar. Padahal, seperti kita ketahui bahwa bukankah mayoritas penduduk bangsa ini adalah Islam? Tetapi bila ditelusuri lebih dalam lagi ternyata hanya jumlah mayoritasnya saja yang besar. Pemahaman maupun aplikasi Islamnya ternyata sangat minim. Dan itu dikarenakan minimnya penanaman Islam dalam ruang lingkup pendidikan Nasional.
            Sebenarnya, sejak awal bangsa kita sudah menerapkan pendidikan Islam sebagai acuan dari system pendidikan yang ada. Namun, karena pengaruh dan tekanan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada saat itu, maka sistem pendidikan pun dirubah, dari sistem pendidikan Islam menjadi sistem pendidikan sebagaimana yang diinginkan oleh pemerintah kolonial Belanda, yang tiada lain hanya bertujuan untuk melemahkan pemahaman-pemahaman para penerus bangsa ini terhadap agamanya, khususnya Islam. Tetapi persoalan selanjutnya, bagaimana setelah bangsa ini merdeka dari penjajahan Belanda, apakah tindakan kita, adakah tindakan dari para pemimpin untuk melakukan perombakan terhadap sistem pendidikan sebagaimana yang ditinggalkan oleh penjajah Belanda tersebut.
            Sebab bila kita ingin menilik sejarah, bukankah sistem pendidikan yang dibentuk oleh penjajah kolonial Belanda ini sejak awal hanya bertujuan untuk menggeser system pendidikan kita. Karena mereka khawatir bila bangsa ini terbangun dengan system pendidikan yang seperti itu, maka bangsa ini nantinya akan melakukan perlawanan untuk mengusir mereka. Adapun system pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada saat itu mengarah pada system pendidikan liberal. Perlu diketahui bahwa sistem liberal itu senantiasa menanamkan pendekatan positivistik dengan asumsi universalisme dan generalisasi. Akibatnya semua ilmu dianggap sama, termasuk metode yang dipakai untuk mendekatinya yaitu metode objektif, apalagi dalam menghadapi zaman modern seperti saat ini. Jadi itulah yang perlu untuk disikapi secara bersama-sama untuk melakukan pembaharuan dalam rangka mengembalikan dan mengembangkan system pendidikan kita, sehingga apa yang dicita-citakan bangsa ini dapat terwujud.
Tidak dapat dipungkiri bahwa zaman modern senantiasa melahirkan beragam pemikiran yang jauh meninggalkan agama. Ilmu pengetahuan dan teknologi diagungkan, egoisme menjadi kepribadian, materialisme menjadi tuntutan, dan bahkan budaya barat yang jauh menyimpang dari ajaran islam justru menjadi gaya hidup. Fenomena ini tentu saja turut membentuk masyarakat yang jahiliah, dimana nilai-nilai keislaman tidak lagi menjadi penuntun hidup, maka tak heran apabila berbagai bentuk dehumanisasi terjadi di sana-sini. Sehingga yang paling bertanggung jawab terhadap persoalan-persoalan seperti ini tentunya adalah pendidikan Islam, yang bertugas untuk menanamkan nilai-nilai keislaman tersebut kepada peserta didik.
Peran yang sangat strategis dalam menanamkan nilai-nilai keislaman tersebut sekurang-kurangnya adalah dengan mengoptimalkan konsistensi dari system pendidikan itu sendiri. Artinya, diperlukan suatu metode dan kurikulum yang dapat mengorganisir penanaman keislaman tersebut kepada peserta didik, yaitu dengan memulai penanaman tersebut dari keberjenjangan pendidikan anak usia dini, sekolah dasar sampai kepada perguruan tinggi. Sehingga dapatlah terlahir peserta didik yang bukan hanya matang dalam kapasitas akademiknya tetapi juga matang dalam artian secara kseluruhan baik itu intelektualnya maupun moralitas kepribadiannya.
Selain itu, hal yang perlu untuk dibenahi dalam system pendidikan kita, bila ingin dikaji lebih dalam adalah orientasi dari sistem pendidikan itu sendiri. Diperlukan orientasi yang jelas, dalam artian sasaran serta target yang ingin dicapai, yaitu mengaitkan antara system pendidikan dengan realitas sosial. Inilah paradigm ideal yang harus dimiliki system pendidikan kita, agar bangsa inipun mampu menghasilakn peserta didik yang responsif terhadap berbagai problem social saat ini yang semakin kompleks.
Jadi, pada kesimpulannya bahwa ternyata sistem pendidikan Nasional memang tidak dapat dilepaskan dari pendidikan Islam secara khusus. Karena peran dari pendidikan Islam inilah yang dapat membentuk, mengembangkan serta mengarahkan kepada peserta didik untuk senantiasa dapat menanamkan moralitas, berakhlak mulia, sopan santun serta mampu berfikir secara kritis, logis dan utuh. Sehingga terwujudlah generasi penrus bangsa yang bertanggung jawab dan mampu menghadapi perkembangan dan tantangan zaman.

#Penulis : Kasri Riswadi (Mahasiswa FKIP UNISMUH Makassar)

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda