Postingan

Menampilkan postingan dengan label Inspirasi

Minimarket Bencana?

Gambar
Apa yang terlintas dalam benak kita jika mendengar kata Minimarket. Pastilah sebuah toko yang berisi kebutuhan pokok sehari-hari dengan tatanan yang rapi, pelayanan yang nyaman, dan lokasinya yang selalu berada di tengah-tengah pemukiman dan keramaian penduduk. Pedanan baru sebagai sinonim dari istilah toko kelontong ini memang sedang berkembang pesat dan telah hadir di mana-mana. Namun seperti apa kira-kira jika Minimarket itu dihadirkan di tengah area pengungsian korban bencana dan melayani secara gratis. Gambaran itu teryata bukan sekadar angan-angan, tapi ia nyata adanya di lokasi pengungsian banjir bandang Masamba, Luwu Utara. Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) pelakunya, yang secara kreatif menghadirkannya dengan perencanan dan penyelenggaraan yang tepat sasaran. Saya tertarik untuk mengetahuinya lebih jauh dengan mengajak inisiator Minimatket itu untuk menceritakannya. Namanya dr Andi Fadly yang sehari-harinya adalah seorang dokter di kota Palopo. "Penyaluran bantuan ...

Smartphone Pintar

Gambar
Sebagai pengguna Smartphone yang sedikit agak senior, seorang kawan dengan smartphone barunya berkonsultasi. "Bang di hape-ta, aplikasi Al Qur'an apa kita pakai?, Apa bagus di'?". Namanya konsultasi maka kujawab secara argumentatif bernuansa nasehat. "di hape saya tidak pake Al Qur'an aplikasi bro. Masa Qur'an di hape, Al Qur'an itu di hati dan kepala, kalau tidak disitu ya di kitab." "Tapi ini kan sudah zaman digital bang, bukankah dengan aplikasi itu justru memudahkan kita?" Si kawan menyanggah. Bro, dengar baik-baik saya bilang. "Saya tahu you ini pencinta Quran, tapi saya juga tahu kau ini pegiat dunia maya bro. Selama ini mushaf selalu ditanganmu, kalau kebiasaan genggaman tanganmu itu tiba-tiba jadi smartphone apa kata orang-orang, bisa fitnah bro buat dirimu. (Kalem saya. Hehe). Kemudian begini bro, RAM hape-mu itu besar tentu akan memuat banyak aplikasi. Memori internalnya pun 16 GB, kau tambah lagi memori ekster...

Buya Sang "Guru Bangsa" yang Sering Dikafirkan

Gambar
Kasri yang tersenyum sumbringah saat pertama kali berjumpa langsung dengan Buya Syafii Maarif, beberapa tahun silam Keberpihakan menjadikan seseorang bersiap diri ditentang, dibuly. Jika tidak siap maka bijaksananya adalah diam.(Stewart, 2011). Saya merasa kira-kira begitulah sikap Buya Ahmad Syafii Maarif, keberpihakan dan siap ditentang. Dengan kasus Ahok yang dituding telah menistakan Al Qur'an lewat Al Maidah 51, Buya bisa saja tak akan dibuly habis-habisan seperti beberapa hari ini, jika ia diam atau tidak perlu menanggapi semua permintaan media terkait sikapnya tentang kasus Ahok ini. Tetapi Buya memilih idealisme dan lebih baik dibaik dibuly daripada diam melihat segala subjektivisme banyak pihak dalam menilai kasus Ahok ini. Tanpa ingin menulis kembali pendapat-pendapat Buya tentang persoalan Ahok ini, saya kira beliau sudah memikirkan semuanya termasuk konsekwensinya. Toh dibuly, di tuduh antek barat, liberal, bahkan kafir bukanlah hal baru bagi Buya untuk...

Tamasya di Kota Solo

Gambar
di Solo 😉 Bicara Solo, bukan sekadar bicara tentang kota asal dari Presiden RI saat ini, bapak Joko Widodo, bukan juga hanya mengenalnya sebagai kota kelahiran sang tokoh reformasi, M Amien Rais. Bicara Solo, berarti bicara tentang sejarah dan kebudayaan. Kota yang dengan nama resmi Surakarta ini, memang identik dengan sejarah, banyak peristiwa bersejarah dari perjalanan bangsa Indonesia tertoreh di kota ini.  Begitu pula sebagai kota budaya, Solo bersama kota Yogyakarta sud ah sejak lama telah menjadi dua barometer kota kebudayaan Nusantara. Bicara Solo, tentu saja juga bicara tentang kota pendidikan. Memang dari segi jumlah masih kalah jauh dari Yogyakarta, Bandung atau Malang, tapi dari segi iklim rasanya kota Solo tak bisa dikesampingkan. Setidaknya iklim itu sebagaimana kami rasakan di kampus UMS dan sekitarnya selama 3 hari ini. Bicara Solo, juga berarti bicara tentang manusianya. Setidaknya ini menurut penilaian Basri, teman yang baru pertama k...

Senyum Bersama Ustad Shamsi Ali

Gambar
Tersenyum bersama Ustad Shamsi Ali (Imam Besar Masjid New York). Kata beliau: Donal Trump, Capres kontroversial AS yang dikenal keras dan sangat rasialis saja luluh karena senyuman, apalagi itu senyum seorang Muslim. Tersenyumlah, kalau gigimu takut kelihatan, tahanlah, seperti yang saya contohkan dalam foto di atas. 😃